Minggu, 16 Desember 2018
Home/ Berita/ Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta

Pertalian Erat Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran Surakarta

MUHAMMADIYAH.ID SURAKARTA - RH Haiban Hadjid, pernah menulis  tentang hubungan  dekat Muhammadiyah dengan  Sultan  Hamengkubuwono VII, VIII dan IX. Dalam tulisannya itu Haiban Hadjid menceritakan bahwa sejak berdirinya Muhammadiyah, yang diprakarsai KH Dahlan, Kraton (Kasultanan) Yogyakarta sejak Sultan HB VII  menaruh  perhatian kepada  Persyarikatan  Muhammadiyah. Perhatian  Sultan HB VII ini ditunjukkan  dengan  memberikan kemudahan-kemudahan  terhadap kegiatan-kegiatan  Muhammadi­yah.

Selain itu, KH Dahlan, yang menjabat Khotib Amin  Masjid  Besar Yogyakarta,  mendapat  dukungan  penuh  dari Kanjeng  Kiyai Penghulu Kraton, Muhammad Kamaludiningrat, ketika mendirikan dan  memimpin Muhammadiyah. Selain diterima di Keraton Yogyakarta, Muhammadiyh turut memiliki cerita tersendiri dengan kehadirannya di Solo.Dalam narasi sejarah, Muhammadiyah hadir di Solo merupakan hasil pertalian erat antara Muhammadiyah dengan Kasunanan dan Mangkunegaran. 

Selain itu, bertemunya simpul pertalian antara Muhammadiyah dan Solo, dimulai dari sering diundangnya KH Ahmad Dahlan yang saat itu sebagai President Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah yang pertama ke Solo.

Diceritakan, undangan tersebut diajukan dari sekelompok cendikiawan muslim yang berada di sekitaran Kasunanan Surakarta. Ketua Pimpinan Daerah (PDM) Solo, Subari menjelaskan, pengajian tersebut diikuti oleh para tokoh ulama Islam yang ada di Solo. Tersebut nama di dalamnya antara lain, Haji Misbach (1876-1924) yang kemudian memilih berjuang dengan Serikat Islam Merah, ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Kiai Merah”. Serta Muchtar Buchary (1899-1926) yang kemudian menjadi Ketua PDM Solo yang pertama (Sebelumnya masih bernama Muhammadiyah Cabang Surakarta).

“Karena Ketokohan para anggota pengajian, bisa dipastikan perkumpulan tersebut akan memiliki gerakan yang dinamis dan progresif,” ucap Subari ketika ditemui redaksi muhammadiyah.id pada Rabu (13/11).

Ia juga mengungkapkan bahwa, Muhammadiyah ada, berawal dari Pengajian yang bernama SATV yang merupakan singkatan dari Sidiq, Amanah, Tabligh, Vathonah. Pemilihan nama tersebut merupakan siasat Kiai (red; Ahmad dahlan) karena saat itu Muhammadiyah masih dibatasi oleh Belanda hanya boleh aktif di wilayah Kasultanan Yogyakarta. Dipilihnya nama tersebut karena SATV adalah singkatan dari nama sifat-sifat nabi Muhammad SAW.

Lebih detail Subari menjelaskan, undangan yang disampaikan kepada KH Dahlan karena HB Muhammadiyah pertama ini memiliki pengetahuan tentang Kristologi.

“Salah satu anggota diskusi dalam perkumpulan tersebut mendengar kabar tentang kepopuleran Ahmad Dahlan, terlebih saat Ahmad Dahlan menantang debat Pastor utusan Belanda dalam melakukan Kristenisasi untuk wilayah Hindia Belanda yang bernama Domine Bekker,” terang Subari.

Kemudian pada tahun 1917 pengajian SATV untuk pertama kali diselenggarakan bertempat di rumah Saudagar Batik yang bernama Harsolumekso. Baru pada tahun 1921 Beslit (Surat Putusan) Belanda membolehkan Muhammadiyah untuk membuka Cabang di seluruh wilayah Nusantara. Akan tetapi dengan persiapan yang panjang dan matang, baru pada tahun 1923 SATV dibubarkan dan berganti nama menjadi Muhammadiyah Cabang Surakarta. Dimasa transisi dari SATV menjadi Muhammadiyah Cabang Surakarta, Muhammadiyah Pusat menunjuk Kiyai Muchtar Buchary, sebagai ketua pertama Muhammadiyah Cabang Surakarta. (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *